MENGANAL ISLAM WAKTU TELU di LOMBOK

Mengenal Islam Waktu Telu di Lombok

 

“Waktu Telu” diartikan “waktu tiga (3)” adalah istilah yang sering digunakan masyarakat untuk menyebut ajaran agama Islam Wetu Telu yang ada di Lombok Utara, khususnya di Desa Adat Bayan ataupun di Desa Karang Bajo.

Oleh masyarakat umum, Waktu Telu sering disangka sebagai (sholat) tiga waktu. Dari penyebutan tersebut, mereka sering menganggap masyarakat Bayan ataupun Karang Bajo hanya shalat 3 kali dalam sehari. Tidak seperti umat Islam pada umumnya yang menjalankan shalat lima kali dalam sehari semalam.

Padalah, penganut Islam Wetu Telu juga menjalankan ibadah sholat 5X dalam sehari-semalam. Jadi, apa yang dimaksud dengan Wetu Telu?

Istilah yang digunakan oleh masyarakat umum dengan menyebut “Wetu Telu” dengan kata “Waktu Telu” telah menghadirkan salah tafsir yang menyebabkan perbedaan pemahaman. Penggunaan kata “Waktu Telu bisa diartikan sebagai penyebutan yang salah untuk terminologi (Islam) “Wetu Telu.”

Wetu Telu adalah pandangan masyarakat setempat mengenai hakekat keberadaan manusia. Di mana, mereka meyakini bahwa keberadaan manusia hanya di tiga tempat yaitu:

l  Pertama, adalah alam rahim atau kandungan atau dalam bahasa Sasak dikenal dengan istilah Mentioq

l  Alam yang kedua yaitu alam dunia

l  Alam yang ketiga adalah alam akhirat

Menurut keyakinan penganut Islam Wetu Telu, ketiga unsur tersebut lah yang memenuhi dunia dan alam semesta beserta isinya.

Kata “Wetu Telu” berasal dari bahasa Jawa yaitu, “metu saking telu” yang dapat diartikan sebagai keluar dari tiga hal, yakini: Al-Quran, Hadis dan Ijma.

Hal tersebut disebabkan karena ulama yang mengenalkan Islam pertama kali di wilayah ini dipercaya adalah seseorang yang berasal dari Jawa.

Hal tersebut bisa dibuktikan dengan ucapan syahadat para penganut Islam Wetu Telu. Secara umum, makna syahadat yang mereka ucapkan sama persis dengan ucapan syahadat dalam bahasa Arab maupun bahasa lain. Yaitu, mengakui keesaan Allah dan mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah.

Berikut adalah pengucapan syahadat Islam Wetu Telu yang dibaca dalam bahasa Jawa.

Weruh ingsun ora ana pengeran liane Allah, lan weruh ingsun setuhune Nabi Muhammad utusan Allah

Terkait dengan shalat 3 waktu yang selama ini menjadi anggapan masyarakat luas mengenai masyarakat Bayan atau penganut Islam Wetu Telu, ada benarnya dan terdapat juga beberapa kesalahpahaman.

Masyarakat Islam Wetu Telu pada dasarnya menjalankan shalat lima kali dalam sehari seperti masyarakat Islam pada umumnya. Hanya saja, menurut sumber “native” lain, yang dikutip dari website indonesia.go.id, mengatakan bahwa penganut Islam Wetu Telu hanya melakukan shalat di 3 momen saja yaitu:

l  Salat Jumat

l  Salat jenazah

l  Salat Idul Fitri dan Idul Adha

Di hari Jumat, masih menurut sumber yang sama, penganut Islam Wetu Telu hanya mengerjakan shalat 3 waktu, yaitu: shalat Subuh (saat dini hari), shalat Magrib ketika senja, dan shalat Isya di malam hari.

Masih menurut sumber yang sama, penganut Islam Wetu Telu juga menerapkan puasa hanya tiga hari pada saat bulan Ramadan, yaitu: di hari pertama, di pertengahan bulan, dan di akhir bulan saja.

Di samping tidak boleh berbohong pada saat puasa, penganut Islam Waktu Telu juga tidak diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan serta tidak boleh keluar rumah.

Perbedaan lain dengan Islam yang kita kenal pada umumnya terletak pada pembayaran zakat. Dimana, penganut Islam Wetu Telu tidak memberikan zakat fitrah mereka kepada fakir miskin atau orang-orang yang berhak menerima seperti yang tertera pada Al-Quran surah Attaubah ayat 60 yang artinya:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Melainkan, mereka hanya memberikan zakat kepada para pemuka agama atau kyai sebagai bentuk balas budi. Dibalik pemberian zakat kepada pemuka agama tersebut, terbersit niatan untuk mencari kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik di dunia maupun di akhirat.

Perbedaan lainnya terletak pada rukun Islam. Di mana, masyarakat penganut Islam Wetu Telu tidak mengenal kewajiban (anjuran) berhaji ke tanah suci Makkah.

Adat dan budaya penganut Islam Waktu Telu di Lombok

Disamping menjalankan berbagai ajaran Islam, penganut Islam Wetu Telu juga menjalankan berbagai adat istiadat atau ritual yang merupakan tradisi turun temurun. Beberapa contohnya adalah:

Acara Pesta Alip

Pesta Alip pertama kali dikenal oleh masyarakat luas melalui buku karya Dr. J. van Ball yang diterjemahkan oleh Koentjaraningrat. Dalam buku yang berjudul “Pesta Alip di Bayan” tersebut, menuturkan bahwa masyarakat setempat rutin melakukan ritual setiap 8 tahun sekali.

Ritual ini bertujuan untuk memelihara makam para leluhur Bayan yang berada di kompleks makam sekitar Masjid Kuno Bayan. Ritual ini sendiri tidak lepas dari kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa keberadaan leluhur merupakan entitas perantara yang bisa menghubungkan antara manusia dengan Tuhan.

Mereka percaya bahwa leluhur, bisa membawa berkah Tuhan, memberikan perlindungan, dan bisa memberikan kesejahteraan pada anak keturunannya. Karena itulah, leluhur kerap dijadikan sebagai perantara untuk mendekatkan hubungan antara anak keturunan (leluhur) dengan Tuhan.

Apabila leluhur tidak dimuliakan atau diabaikan, masyarakat setempat meyakini bahwa, mereka yang mengabaikan leluhur akan mendapatkan sanksi supranatural yang disebut pemalik, berupa kesialan hingga hidup susah.

Seperti misalnya, ketemuk yang bisa diartikan sebagai terkena gangguan roh/arwah orang yang sudah meninggal yang menyebabkan orang yang ketemuk jadi (panas) demam. Atau, akan kena tulah manuh, yang lebih akrab kita kenal dengan istilah apes/kualat.

Adapun kebenaran yang sesungguhnya mengenai Islam Wetu Telu di Lombok, bisa Anda gali dan ketahui lebih dalam dengan mengunjungi desa-desa yang masyarakatnya hingga saat ini masih memegang teguh ajaran Islam Waktu Telu, seperti di desa Bayan atau Desa Karang Bajo.

 

 

 

Scroll to Top
WhatsApp chat